ANALISIS PSIKOLOGI TOKOH UTAMA DALAM NOVEL “JALAN TAK ADA UJUNG ” KARYA MOCHTAR LUBIS

  1. Guru Isa takut dengan perasaannya sendiri

“Ketika tembakan pertama di gang Jaksa itu memecah kesunyian pagi, Guru Isa sedang berjalan kaki menuju sekolahnya di Tanah Abang. Selintas masuk ke dalam pikirannya rasa was-was tentang keselamatan istri dan anaknya. Ah, Fatimah akan hati-hati, pikirnya kemudian, telah aku suruh dia jangan keluar-keluar rumah.” (Hal. 8)

Berdasarkan kutipan di atas terlihat tokoh Guru Isa selalu merasa khawatir dan perasaan tidak tenang atas kesalamatan istri dan anaknya yang selalu melintas di pikirannya di saat dia berangkat bekerja. Seharusnya hal ini tidak terjadi pada saat dia sedang bekerja. Perasaan-perasaan itu seharusnya dihilangkan dari pikiran Guru Isa yang dapat membuat dirinya tersiksa.

2. Guru Isa takut pada pada serdadu-serdadu India di Jalan

“Isa tidak bisa melukiskan perasaannya, ketika dia berpaling kembali, dan melihat serdadu-serdadu India melompat ke jalan dari truk. Perasaannya kosong. Terutama perutnya. Dan dadanya sedikit terasa sesak. Sekarang bukan karena berlari keras, tetapi karena menahan perasaan hatinya. “(Hal.10)

Berdasarkan kutipan di atas, Guru Isa selalu merasa ketakutan kalau melihat serdadu-serdadu India yang ada di jalan yang sewaktu-waktu bisa mencelakai dirinya. Ketakutan Guru Isa yang berlebihan ini justru akan membuat dia merasa tersiksa, padahal serdadu-serdadu itu hanya melompat saja di jalan dan tidak akan mencelakainya.

3. Guru Isa takut mati

“Astagfiriullah!” Isa berseru dalam hatinya terkejut dan ngeri ketakutan. Sekilas terbayang dalam kepalanya dia ditembak mati sekarang. Dan dia teringat pada istrinya dan Salim yang berumur empat tahun. (Hal.11)

Berdasrkan kutipan di atas, Isa merasa takut kalau dirinya yang sewaktu-waktu mati tertembak dan bagaimana dengan istri dan anaknya nanti. Ketakutan yang dialami Isa memang sangat berlebihan karena dia selalu membayangkan hal-hal yang sekiranya terjadi pada dirinya padahal belum tentu itu terjadi.

4. Guru Isa jijik dan takut melihat tingkah serdadu

“Rasa jijik dan takut memuncak dalam hati Isa melihat tangan serdadu yang kasar dan berbulu-bulu itu menggeledah istri tuan rumah. Menggeledah dengan kasar sekali, dan tangannya terlalu lama berhenti di dada perempuan itu. Suaminya memutarkan kepalanya, enggan melihat istrinya dikurangajari.” (Hal. 12)

Berdasarkan kutipan di atas, Isa merasa jijik dengan perbuatan yang dilakukan oleh serdadu-serdadu itu saat menggeledah istri tuan rumah. Dalam hal ini berarti Guru Isa merasa tidak suka dengan sikap yang ditunjukkan oleh serdadu-serdadu tersebut yang dianggapnya tidak pantas dilakukan oleh orang yang belum kita kenal menggeledah dengan kasar dan bahkan sampai berhenti di dada perempuan, sungguh perbuatan yang memalukan.

5. Guru Isa takut pada serdadu

Isa teringat pada istrinya, dan sebentar dia bertanya pada dirinya sendiri, apakah yang dilakukannya, jika rumah mereka digeledah, dan serdadu kasar menggeledah istrinya? Akan melawankah dia? Tidak dipikirkannya lama-lama karena dalam hati kecilnya dia tahu, dia tidak akan berani juga melawan. Perasaan takut matinya juga yang akan menang.” (Hal. 12)

Berdasarkan kutipan di atas, Guru Isa masih memiliki rasa takut meskipun sikap yang tidak diinginkan itu bisa terjadi pada istrinya. Dia mungkin tidak akan melawan karena Isa tidak berani untuk melawannya. Karena dia merasa kalau melawan tidak akan menang.

6. Guru Isa takut kekerasan terjadi pada dirinya

“Kalau aku yang kena, bagaimana dengan istri dan anakku, pikir Guru Isa. Dalam hatinya timbul rasa tidak enak ketika membayangkan dirinya  terbaring di tanah berlumaran darah, mengerang-ngerang kesakitan. Pemandangan demikian melukai hatinya yang lembut. Terasa sebagai perkosaan pada kehormatan manusia baginya.” (Hal.13)

Berdasarkan kutipan di atas, Guru Isa selalu berpikir dan membayangkan dirinya mengalami kejadian yang belum tentu terjadi pada dirinya. Hal inilah yang dapat menyebabkan perasaan Guru Isa yang selalu diliputi rasa takut dan selalu membayangkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu kita takutkan dan kita pikirkan.

7. Guru Isa takut tidak mau mengakui ketakutannya

“Baru hari itu dia bertemu muka dengan segi-segi keras dan tajam dari revolusi. Penumpahan darah. Darah manusia. Guru Isa akan merasa terluka hatinya, jika dikatakan padanya, bahwa perasaan yang dirasanya sekarang adalah rasa takut. Tetapi pada dirinya sendiri dia tidak mengakui, bahwa dia takut.” (Hal. 28)

Berdasarkan kutipan di atas, Guru Isa tidak mengakui bahwa dirinya sebenarnya memiliki rasa takut. Ketakutan Guru Isa tidaklah wajar karena hanya melihat darah saja pikirannya diliputi dengan rasa takut.

8. Guru Isa takut pada dirinya sendiri

“ Guru Isa teringat malam perkawinannya. Dia tersenyum pada dirinya sendiri. Tapi tidak lama. Kemudian mukanya menjadi agak suram. Dia ingat enam bulan setelah mereka kawin. Pertama-tama kali dia tidak kuasa meladeni istrinya. Telah lama terasa padanya tenaganya sebagai laki-laki berkurang. Seperti air dalam kaleng yang tiris perlahan-lahan habis, hingga akhirnya kering. Dan esok malamnya. Kembali dia tak sanggup. Wajah istrinya yang seakan mengumpat! Malam yang lain demikian pula. Hingga akhirnya jiwanya terpengaruh. Hingga sekarang. Dan istrinya menjadi dingin terhadap dia. Tetapi mereka menjaga perkawinan. Dia telah pergi ke dokter. Dan dokter-dokter mengatakan, bahwa impotensinya adalah semacam psyhiachenya sendiri. Yang dapat mengobatinya hanya jiwanya sendiri. Atau sesuatu di luar yang dapat melepaskan tekanan jiwanya yang merasa tidak kuasa.”(Hal 29)

Berdasarkan kutipan di atas tampaknya Guru isa mengalami masalah gangguan seksual yaitu impoten. Guru Isa merasa tertekan dengan keadaan ini, dia tidak bisa memenuhi hasrat seksologisnya kepada istrinya bahkan dia merasa bersalah kepada istrinya. Meskipun begitu mereka tetap menjaga perkawinannya. Perasaan inilah yang selalu membuat Guru Isa merasa tertekan dan merasa lemah menjadi seorang lelaki. Penyakitnya yang bisa menyembuhkan hanya dirinya bukan dokter.

9. Guru Isa menderita dan kecewa

“Jiwanya menderita benar. Meskipun setelah bertahun-tahun ini, ketika segala macam usahanya berobat tidak berhasil, penderitaan jiwanya ini sudah tertekan ke bawah, ke dalam jiwa tidak sadarnya. Hanya sekarang dia tidak tahu, bahwa penderitaan dan kekecewaannya mengorek-ngorek di bawah jiwa sadarnya, mengubah pandangan hidupnya, pikirannya, dan sikapnya kepada hidup di sekelilingnya. Guru Isa juga yang tidak tahu.” (Hal.30)

Berdasarkan kutipan di atas, Guru Isa benar-benar tertekan dan batinnya tersiksa kalau melihat sudah berbagai cara ditempuhnya namun tetap saja tidak berhasil, dia sangat kecewa dengan keadaan yang terjadi pada dirinya.

10. Guru Isa malu kelaki-lakiannya tidak berdaya

“ Ketika itu dia menundukkan kepalanya penuh malu kelaki-lakiannya yang tiada berdaya. Dia diam tidak membantah lagi. Demikian anak pungut mereka, laki-laki kecil, salim, berumur empat tahun, datang ke dalam penghidupan mereka. Untuk menggantikan anak yang seharusnya dapat diberikannya. Tetapi jauh dalam hatinya anak itu merupakan tanda tiada daya laki-lakinya.” (Hal 30)

Berdasarkan kutipan di atas, Guru Isa semakin tertekan dengan datangnya anak pungut yang telah mereka rawat semenjak kecil. Dia semakin menganggap dirinya lemah dan kelaki-lakiannya tidak berdaya kalau melihat Salim anak laki-laki yang telah dipungutnya ini membuat Guru Isa semakin tertekan dan menandakan kalau kelaki-lakiannya tidak berfungsi. Batinnya semakin tersiksa dan menderita.

11. Guru Isa kecewa dan putus asa

“Perasaan-perasaan ini juga tidak sadar dirasa oleh guru isa. Semua rasa kecewa, dekat putus asa, ini keluar dalam bentuk-bentuk yang lain,” (Hal.30)

Berdasarkan kutipan di atas, terlihat bahwa Guru Isa sangatlah tertekan, kecewa, putus asa yang tidak bisa diungkapkan, hanya dia yang bisa merasakan.

12. Guru Isa selain memiliki perasaan cemas, takut dia juga bangga dengan dirinya

“ Di samping segala perasaan cemas, takut, ngeri yang bercampur-campur menggoda perasaannya, Guru isa merasa juga sedikit bangga pada dirinya, karena dia ikut menjadi anggota sebuah organisasi rahasia. Seakan-akan hatinya terobati dengan memikirkan, bahwa dia ikut berjuang. Dan kadang-kadang timbul rasa lebih dirinya, jika dia berpikir, bahwa istrinya tinggal di rumah sedang dia melakukan kerja yang berbahaya di samping menjadi guru.” (Hal.43)

Berdasarkan kutipan di atas, Guru Isa merasa bangga kalau dirinya ikut berjuang di negri ini, seakan-akan dia bisa mengalahkan segala perasaannya yang selalu diliputi rasa cemas, khawatir, ketakutan seakan semuanya sirna bahkan dia bisa mengalahkan semua perasaan-perasaannya itu.

13. Guru Isa menyadari keadaan dirinya

“Guru Isa menarik napas berat-berat.  Dia tahu hal ini tidak mungkin. Tidak mungkin terjadi selama keadaannya masih belum juga berubah.” (hal.56)

Berdasrkan kutipan di atas, Guru Isa menyadari bahwa dirinya tidak mungkin bisa mengatasi permasalahan yang selama ini selalu dianggapnya sangat menyiksa dan menekan batinnya.

14. Guru Isa merasa cinta Fatimah sudah tidak ada

“ Amat berat terasa bagi guru Isa untuk merenggutkan matanya dari mata Fatimah, karena hingga ke akhirnya dia masih berharap juga. Dalam hatinya, sebagai biasa juga pada waktu-waktu seperti ini. Guru Isa merasa pilu sekali. Dia amat benci dan sedih melihat sinar mata Fatimah yang  tiada mengandung kasih dan cinta. Hanya sinar mata seorang asing yang merasa belas kasihan dengan orang lain. Tidak ada lagi yang lain. Yang lebih dalam dan lebih mesra.” (Hal. 59)

Berdasarkan kutipan di atas, Guru Isa merasa sudah tidak dicintai oleh istrinya, Fatimah yang ada hanyalah sorot mata benci, dan sedih. Guru Isa merasa dirinya tidak dibutuhkan lagi oleh istrinya dan istrinya hanya merasa kasihan saja kepada guru Isa tidak ada perasaan cinta seperti yang diharapkan Guru Isa.

15. Guru Isa takut Fatimah

“ Ketika sekolah beristirahat dan datang kesempatan sebaik-baiknya untuk minta perskot gajinya, guru Isa menjadi ragu-ragu. Timbul kebimbangan dalam hatinya. Dia takut akan merasa malu,jika permintaannya ditolak oleh guru kepala. Sementara itu hatinya bertambah gundah pula memikirkan, jika tidak membawa uang maka Fatimah di rumah akan mengomel padanya.”(Hal. 68)

Berdasrkan kutipan di atas, Guru Isa sebetulnya memiliki rasa malu yang sangat kuat untuk meminta perskot gaji dari kepala sekolah tetapi dibalik itu dia juga merasa takut untuk melakukan perbuatan yang semestinya tidak ia lakukan. Hal ini dilakukan karena adanya tuntutan dan kewajiban sebagai kepala rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya setiap hari dan kalau tidak berhasil dia takut omelan Fatimah, istrinya.

16. Guru Isa menjadi pencuri

“ ….Aku mencuri!Pencuri!Pencuri! Di deranya dirinya sendiri, dicambuknya, disiksanya dengan tidak mengenal ampun. Seluruh jiwanya ditelanjanginya, dibakarnya habis-habis. Seakan-akan ada suatu kepuasan baginya menyiksa dirinya sendiri demikian. Seakan dia merasa menyiksa jiwa sendiri seperti ini adalah penebusaan dosa pencurian yang telah dilakukan. Seakan-akan dosa dan pencurian yang telah terjadi akan dapat ditebus.” (hal.70)

Berdasarkan kutipan di atas, Guru Isa menyiksa dirinya sendiri karena dia malu menjadi pencuri, seluruh jiwanya disakiti dan seolah – olah puas dengan apa yang telah ia lakukan pada dirinya sendiri dan seakan-akan dosanya bisa ditebus dengan menghukum dirinya sendiri.

17. Guru Isa ketakutan

“ Guru Isa merasa hatinya seakan diperas oleh tangan yang dingin. Terkejut, ngeri dan takut. Udara rasanya padat, mengandung napas maut. Dia melihat kepada Hazil. Muka Hazil juga menegang, dan pucat sedikit. Matanya jadi keras dan sejuk.” (Hal.82)

Berdasarkan kutipan di atas, Guru Isa merasa ketakutan karena peristiwa-peristiwa yang pernah dialaminya demikian juga dengan Hazil, dia juga merasa takut dengan apa yang mereka berdua lakukan dan hukuman seakan sudah mengancam di depan mata mereka.

18. Guru Isa takut mati

“ Mendengar kata mati, guru Isa menjadi takut kembali. Di matanya terbayang dia jatuh tertembak, darah mengalir dari dadanya, dalam debu di jalan yang kering.” (Hal. 110)

Berdasarkan kutipan di atas, Guru Isa membayangkan dirinya mati tertembak dan darah mengalir dari dadanya. Seharusnya Guru Isa tidak perlu membayangkan kejadian yang belum tentu tidak akan terjadi. Bayangan ketakutan ini justru akan membuatnya tambah takut dan tertekan.

19. Guru Isa takut pada Fatimah karena tidak bisa memenuhi kebutuhan psikologisnya

“Dia tahu dia tidak bisa datang pada Fatimah dengan kesepiannya. Tidak bisa datang lagi dengan ketakutannya. Dengan kengeriannya. Dengan kepiluaannya. Dengan kesenangan hatinya. Kesenangan hati yang sudah semakin jarang timbul dalam dirinya, tak ubahnya sebagai orang keluar dari hutan, dan pohon-pohon semakin jarang, dan semakin jarang hingga orang tiba pada gurun tandus yang keras, dan kering.” (Hal.133)

Berdasarkan kutipan di atas, Guru Isa tidak bisa membahagiakan istrinya terutama masalah seksologi. Dia merasa ketakutan setiap mau mendatangi istrinya, takut kalau istrinya menolaknya seperti waktu dia baru menikah. Dia  benar-benar dicekam oleh perasaan takut sehingga membuat dirinya jadi tidak berarti dalam menjalani hidup ini.

20. Guru Isa menyesali perbuatannya

“Saya tidak pernah akan mau ikut lagi, katanya pada dirinya sendiri, saya tidak mau ikut lagi, katanya pada dirinya sendiri, saya tidak mau ikut lagi, katanya berulang-ulang, tidak mau lagi. Tidak mau lagi.”

“Setelah ini saya hanya mau hidup, katanya pada dirinya, hanya mau hidup saja, tidak mau campur sama Republik, tidak mau campur dengan Belanda. Jadi guru dan hidup saja. Cukup begitu.” (Hal.137)

Berdasarkan kutipan di atas, Guru Isa menyesali apa yang telah diperbuatnya untuk Republik yaitu berjuang yang taruhannya adalah nyawanya sendiri. Dia sangat menyesal dan tidak akan ikut campur lagi masalah Republik ini, dia hanya ingin menjadi guru saja. Penyesalan Guru Isa ini benar-benar membuat dia merasa tahu apa yang seharusnya dia lakukan yaitu berbuat sesuatu yang tidak membahayakan nyawanya sendiri.

2.  Aspek psikologi yang dialami tokoh Hazil adalah sebagai berikut.

  1. Hazil seorang pemusik handal

“ Beberapa minggu penghabisan ini,”Jawab Hazil,”saya tidak berani bercerita padamu, takut tidak akan berhasil. Hingga sekarang aku juga masih bimbang ….rasanya belum cukup kuat aku gambarkan perjuangan manusia dalam musik ini…. Perjuangan manusia semenjak zaman dahulu ….. perjuangan memburu kebahagiaan.” (Hal 43)

Berdasarkan kutipan di atas, Hazil adalah seorang pemain musik yang handal, dia tidak mau bermain musik hanya untuk sekedar hobi saja tetapi sebaliknya dia ingin bermain musik dengan sungguh-sungguh yang  bisa membahagiakan orang lain atau penikmat musik.

  1. Hazil tidak pernah ragu-ragu

“ Dalam perjuangan kemerdekaan ini, tidak ada tempat pikiran kacau dan ragu-ragu,” kata Hazil. “Saya tidak pernah ragu, dari mulai. Saya sudah tahu-semenjak mula-bahwa jalan yang kutempuh ini adalah tidak ada ujung. Dia tidak aka nada habis-habisnya kita tempuh. Mulai dari sini sini, terus, terus, terus tidak ada ujungnya….” (Hal.49)

Berdasarkan kutipan di atas, Hazil memang seorang pemain musik yang luar biasa. Dia tidak ingin usahanya sia-sia tidak punya arti. Hazil tidak pernah ragu dengan apa yang telah dipilihnya bahkan dia sangat menekuninya sampai kapanpun dan tidak tahu ujungnya sampai dimana yang penting dia tetap terus dan tidak akan bosan-bosannya untuk bermain musik.

  1. Hazil menyukai Fatimah

“ Hazil tidak menyahut, dan sebentar sunyi dalam dapur itu, hanya bunyi kretakan apai makan kayu. Tiba-tiba mereka berdua merasa benar, bahwa hanya mereka dalam dapur kecil dan panas itu. Hanya mereka. Hazil melihat pada Fatimah. Fatimah melihat padanya. Mereka berdua merasa tiba-tiba udara menjadi pekat dan tegang dan mengandung sesuatu”.(Hal.116)

Berdasarkan kutipan di atas, Hazil dan Fatimah merasa ada sesuatu yang membuat keduanya tertarik dan akhirnya membuat kedua insane ini lupa dengan status mereka masing-masing dan terjadilah apa yang seharusnya tidak terjadi. Kedua insan tersebut melakukan sesuatu yang dilarang agama dan tiada rasa penyesalan.

  1. Hazil berkhianat pada guru Isa

“ Hazil menundukkan matanya, mengelakkan pandangan guru Isa. Aku berkhianat, aku khianati dia, tuduhnya pada dirinya sendiri, sekarang dia di sini menghadapi siksaaan seperti aku, karena aku pengecut, tidak tahan siksaan, dan Hazil menundukkan kepalanya ke dadanya, penuh malu kelaki-lakiannya dan malu persahabatan yang dikhianati, dan menangis terisak-isak seperti anak kecil.” (Hal 158)

Berdasarkan kutipan di atas, Hazil yang dikenal sebagai pemusik dan sahabat Guru Isa ternyata dia berkhianat pada temannya sendiri. Dia sangat menyesal dengan apa yang telah diperbuatnya, dia merasa telah mengingkari janjinya sendiri dan dia juga telah membuat Guru Isa menjadi menderita.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: