Posts Tagged With: Menulis resensi

MENULIS RESENSI

MENULIS RESENSI

Cara menulis resensi buku :
1. Membaca dan memahami buku tersebut secara kritis
2. Membaca kata pengantar dan pendahuluan, ringkasan buku
3. Membaca keseluruhan isi buku dan mencatat hal-hal yang penting

Hal-hal yang perlu diulas dalam resensi :

1. Judul resensi
2. Identitas buku
3. Riwayat kepengarangan
4. Ikhtisar/sinopsis
5. Kelemahan dan keunggulan buku
6. Gaya bahasa yang digunakan pengarang dalam buku
7. Kesimpulan resensi

Pertanyaan panduan yang digunakan dalam membuat ikhtisar/sinopses novel/cerpen adalah
1. Siapakah tokoh atau tokoh-tokoh utama pada novel yang kalian baca !
2. Masalah apakah yang tengah dihadapi para tokoh ?
3. Bagaimana akhir nasib tokoh-tokoh tersebut ?
Ubahlah jawaban soal tersebut menjadi ikhtisar/sinopsis cerpen/novel.

Cara mengulas keunggulan dan kelemahan resensi :

Dapat dilakukan dengan cara menganalisis unsur novel yang diresensi. Unsur-unsur novel yang dianalisis, misalnya Alur, tokoh, tema, latar, bahasa, sudut pandang pengarang, atau nilai-nilai kehidupan yang diungkapkan pengarang.

Pertanyaan panduan yang digunakan untuk membantu keunggulan/kelemahan novel :

1. Apakah alur novel dekembangkan dengan konlik-konflik yang menarik ?
2. Apakah pengarang menampilkan peristiwa-peristiwa yang menarik untuk diikuti dalam pengembangan cerita ?
3. Apakah pengarang menampilkan tokoh dengan karakter yang khas ?
4. Apakah pengarang mengembangkan karakter tokoh dengan menekankan pendapat perkembangan aspek psikologi dan sosial secara berimbang ?
5. Apakah tema yang diketengahkan tergolong baru dan relevan dengan persoalan masyarakat sekarang ?
6. Apakah titik pandang yang dipilih pengarang ?
7. Apakah kisah yang dikembangkan pengarang berhubungan dengan salah satu sisi kehidupannya sendiri ?
8. Apakah bahasa yang digunakan pengarang komunikatif ?
9. Apakah nilai-nilai kehidupan yang disampaikan merupakan isu atau pandangan baru tentang kehidupan ?
Ubahlah jawaban kalian menjadi karangan singkat yang berisi analisis terhadap novel yang yang kalian baca

Pertanyaan panduan yang digunakan dalam membuat manfaat membaca buku adalah :

1. Apakah kalian menemukan kehidupan yang diulas dengan sudut pandang yang baru ?
2. Apakah kalian mendapat pelajaran untuk meningkatkan kualitas hidup setelah membaca novel tersebut ?
3. Apakah kalian akan bersikap lebih bijaksana dalam mengambil keputusan setelah membaca novel tersebut ? Apa motivasinya ?
Ubahlah jawaban kalian menjadi paragraf yang berisi pendapat tentang manfaat membaca novel tersebut !

Contoh resensi cerpen
Potret Muram Keluarga Indonesia

Judul          : Bukan Pasar Malam
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit     : Bara Budaya , Yogyakarta
Edisi            : November 2002
Tebal           : V1 + 103

             Pramoedya Ananta Toer termasuk salah seorang yang karya-karyanya dilarang beredar di masa orde baru. Sekarang di era reformasi, kita bisa menikmati segala macam buku, termasuk juga karya-karya Pramoedya, baik yang dicetak ulang maupun yang baru.
Salah satu karya Pramoedya yang diterbitkan kembali adalah novel “Bukan Pasar Malam.” Novel yang ditulis oleh Pram tahun 1951 ( hal V1).
Kisah novel ini diawali dari tokoh “aku” yang tinggal di Jakarta, menerima surat yang menyuruhnya pulang ke Blora karena ada keluarga yang sakit. “Aku’ membalasnya dengan sebuah “ Surat Merah” yang menuding seluruh anggota keluarga tidak bisa menjaga dan mencegah penyakit TBC (Tuberkulose) menggerogoti si sakit.
Surat kedua menyusul. Kali ini yang menulis surat adalah pamannya, yang menjelaskan bahwa si sakit tak lain ayahnya sendiri. “Aku” menyesal telah mengirimkan “Surat Merah” itu yang kelak penyesalannya ini tidak terbatas dan mewarnai isi keseluruhan novel. ”Aku” memutuskan untuk pulang ke Blora tapi bingung karena kondisi keuangan tidak mencukupi untuk ongkos pulang balik Jakarta-Blora.
“Aku” berkeliling Jakarta untuk meminjam uang dari teman dan pulang ke Blora melewati tempat-tempat yang dulu menjadi ajang konfrontasi perjuangan kemerdekaan. Dari situ, cerita menjadi sebuah flash back, di mana dulu, “Aku” dan ayah, yang guru, berjuang memanggul senjata dengan bergerilya melawan penjajah.
Pengorbanan atas perjuangan itu mengakibatkan derita yang panjang akibat revolusi pasca kemerdekaan. Hidup keluarga “Aku” tetap miskin. Bahkan untuk perawatan Ayah pun tidak ada asuransi sama sekali akhirnya ayah meninggal.
Novel ini sesungguhnya berkisah tentang sebuah keluarga nasionalis yang menderita setelah kemerdekaan yang dulu mereka perjuangkan. Jadi, sebuah ironi sebuah potret muram keluarga Indonesia.
Membaca novel yang setingnya berdurasi satu bulan ini, kita seperti membaca sebuah novel otobiografis, dimana cerita digarap secara sistematis, didukung oleh nama tempat, latar kejadian, dan waktu yang nyata.
A. Tew menyatakan dalam bukunya Citra Manusia Indonesia dalam karya sastra Pramodya Ananta Toer, bahwa membaca karya Pram harus pula secara intertekstual. Artinya, apapun yang ditulis Pram sepanjang itu sebuah cerita, harus dipahami lahir dari imajinasi. Cerita yang dibuat Pram adalah fiksi, meskipun didukung tempat dan waktu yang nyata.
Dengan gaya bahasa yang cerdas dan cerita yang evokatif, Pram mengemas Bukan Pasar Malam menjadi sebuah novel yang religius, namun aneh, mistis, dan mengajak pembaca untuk berkomtemplasi yang merupakan keunikan tersendiri dibanding karya Pram lainnya, semisal novel Bumi Manusia.
Dialog-dialog dalam novel ini tidak disajikan berdasar kesengajaan atau dibuat-buat, tetapi memang untuk menyampaikan suatu informasi. Dialog tokoh-tokoh dalam novel ini menyentuh, menggugah, dan penuh dengan renungan. Semisal dialog semacam ini : “Lima belas – dua puluh kilometer bukan pekerjaan yang berat bagi seorang guru. Yang berat adalah menelan pahit getirnya kesalahan-kesalahan pendidikan orang tua si murid (hal. 48). Ini merupakan dialog “Aku” dengan tetangganya yang tahu bagaimana perjuangan ayah dulu.
Arti harfiah “pasar malam” yang menjadi judul novel ini menunjuk pada hiruk pikuk yang merupakan suasana pasar, suasana senang-senang, suasana bahagia, di mana semua orang datang dan pergi bersama-sama (hal.89). Kalimat ini kita temukan pada bagian akhir novel melalui dialog seorang Tiaongha dan para tetangga yang datang melayat saat Ayah meninggal.
Dan agaknya ini merupakan pesan yang ingin disampaikan pengarang, yaitu bahwa hidup memang bukan pasar malam : seorang demi seorang datang (lahir) dan seorang demi seorang pergi (mati). Dan pasar merujuk pada makna pluralitas, tempat bertemu setiap orang demi golongan apa pun.

Categories: Uncategorized | Tags: | 2 Komentar

Blog di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.